Nur Kholifah Kirim Surat Terbuka Terkait Teror Harimau Di Sumatera Selatan

fhoto copyright komeringonline.com

Yth. Bapak Gubernur Sumatera Selatan 

Yth. Bapak Bupati Lahat

Yth. Bapak Walikota Pagaralam

Yth. Bapak Bupati Muara Enim

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Perkenalkan, Saya salah satu putri daerah sumsel yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Lahat nyaris seusia perak. Sebagai anak yang dibesarkan di Kecamatan Kota Agung Kab. Lahat, Saya termasuk salah seorang yang mencintai tempat asalnya meskipun sekarang saya hidup di perantauan.

Semasa kecil, setiap kali saya membuka pintu rumah, bukit barisan menjadi pemandangan yang selalu memelukku dengan hangat. Semburat fajar mengintip di balik perbukitan yang berdiri gagah. Lalu kemudian matahari terbit di balik bukit, menyebarkan energi pada semua makhluk hidup di sana.

Saat itu, udara sejuk dan dingin masih menjadi ciri khas dusun tempatku tinggal. Di pagi hari saat baru terbangun dari tidur, saat kita hembuskan nafas, maka akan nampak uap dingin ikut keluar dari mulut kita dengan gigi yang gemeretuk menahan dingin. Tak perlu AC atau kipas angin, masyarakat beraktifitas dengan baik dalam suhu normal.

Di dusun yang dikelilingi bukit barisan, nampaknya tak susah mencari air untuk keperluan MCK, tak hanya itu air bersih untuk dikonsumsi pun melimpah. Dingin, sejuk, bening, segar dan tak henti mengalir begitulah kira-kira perasaan yang kita rasakan saat mandi di pancuran. Tempat pemandian umum seperti ini biasanya di bangun di pinggiran desa, dengan pemandangan hamparan sawah yang memanjakan mata.

Mata pencaharian penduduk di dusun yang dikelilingi bukit barisan ini, mayoritasnya adalah petani kopi. Kebun kopi warga terletak cukup jauh dari pemukiman, sebagian di dataran tepi dusun, sebagian lagi di dataran tinggi di atas bukit. Bukit telah menjadi teman masyarakat di sana sejak lama. Bahkan saya pernah mengunjungi air terjun (baca:cuhup) di bukit saat usia 15 tahun dengan teman-teman sebayaku. Saat saya menjadi guru honorer, saya juga sempat kembali hiking ke sana dengan puluhan siswa-siswaku. Alhamdulillah alam begitu bersahabat dengan kami.

Akan tetapi, suasana indah itu mulai berubah seiring perkembangan zaman. Dusun tempatku tinggal tak lagi sesejuk dulu, saya pribadi merasakan betul perubahannya saat mulai berdiri PT. di area perbukitan. Tapi tak apalah, mungkin dengan cara ini wilayah tempat saya tinggal akan semakin maju. PT. tersebut telah menyerap banyak tenaga kerja dari warga lokal, meskipun tak jarang kami melihat para pekerja asing.

Dari tanah rantau, saya masih memantau kabar berita dari tanah yang membesarkanku. Saya membaca banyak berita tentang serangan harimau akhir-akhir ini. Bukit yang dulu begitu bersahabat, kini terasa mulai mencekam. Tak ada masyarakat yang berani mengambil resiko dengan tetap berkebun di tengah maraknya serangan harimau. Mereka menunda aktifitas berkebun yang merupakan mata pencaharian utama. Tak hanya itu, pinggiran dusun pun tak lagi menjadi tempat yang aman untuk beraktifitas. Terakhir semalam, Saya membaca berita tentang serangan harimau yang menewaskan warga yang hendak mandi. Subhanallah, tempat pemandian umum yang jauh dari habitat hewan pemangsa itu pun mulai berbahaya untuk didatangi. Ini tak hanya menjadi ancaman bagi warga Lahat, tapi menjadi ancaman di beberapa wilayah serupa di Sumatera Selatan.

Bapak-bapak Pemimpin Daerah yang saya hormati, terus terang kekhawatiran saya dan para perantau lainnya yang tidak berada langsung di wilayah itu teramat besar. Ayah, ibu, saudara, dan keluarga besar kami di sana, di dusun yang dikelilingi bukit barisan dengan pemangsa nomor satu yang mulai tak lagi betah tinggal di habitatnya. Kekhawatiran ini kian bertambah dengan makin banyaknya berita serupa tentang serangan harimau yang menewaskan warga.

Saya yakin, kekhawatiran yang kami rasakan tidaklah sebanding dengan kekhawatiran warga yang memang tinggal dan menetap di sana. Betapa takut dan bingung mereka, tidak pergi ke kebun nanti mereka mau makan apa, pergi ke kebun nanti mereka yang dimakan oleh kucing besar itu. Tak dapat dibayangkan jika kegentingan ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama.

Bapak-bapak Pemimpin Daerah yang saya hormati, wilayah pedesaan yang dikelilingi bukit ini tak lagi aman, tidak seperti kota tempat Bapak dan keluarga tinggal. Saya rasa mereka tak akan memasuki wilayah kota jika pedesaan masih memiliki kemiripan yang lebih banyak dengan habitat awal mereka. Ya, kucing besar itu mulai menyukai perkampungan. Bahayanya lagi, karnivora terbesar ketiga itu mulai menyukai daging manusia.

Bapak-bapak Pimpinan Daerah yang Saya hormati, melalui surat ini saya mewakili jutaan warga yang berselimut kecemasan di tanah yang berdampingan dengan habitat kucing karnivora terbesar itu memohon untuk segera ada tindakan nyata untuk mengatasi teror harimau yang menghantui. Sungguh kami berada dalam kebingungan dan kecemasan setiap harinya. Bagai buah simalakama, di satu sisi masyarakat takut menjadi pengisi perut harimau lapar, namun di sisi lain perut masyarakat pun bisa tak terisi karena mata pencaharian terputus.

Saya masih cukup bodoh untuk memberikan alternatif solusi, mungkin pemerintah bisa melepas liarkan ratusan rusa, babi hutan, kambing hutan dan mangsa-mangsa kucing besar lainnya ke hutan lindung yang menjadi habitatnya. Memastikan tak ada lagi pembalakan hutan, memberi pagar pembatas agar masyarakat dan raja hutan tak saling memasuki wilayah teritorial masing-masing. Mendirikan pos-pos penjagaan agar hutan lindung memang terlindungi sesuai namanya.

Saya percaya, Bapak-bapak Pimpinan Daerah memiliki wawasan luas tentang perlindungan warga, hewan, dan hutan. Di tangan Bapak-bapak para pemimpin daerah kami gantungkan harapan, semoga amanah kepemimpinan menjadi landasan utama untuk mencari solusi atas masalah ini. Para warga hanya mampu berdoa sebagai selemah-lemahnya usaha. Namun untuk memperbaiki dengan lisan dan tangan, saya rasa itu wewenang Bapak dan aparat yang terkait.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga setelah ini ada solusi nyata, sehingga tak ada lagi nyawa yang hilang dengan cara tragis. Terlepas dari keyakinan kami akan qada dan qadar, kami berharap masyarat di sana bisa kembali beraktifitas mengais rejeki dengan hati tenang dan bahagia.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Hormat Saya,

Nur Kholifah

(komeringonline.com)

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *