Klaster Pesantren Dan Sholat 5 Waktu

Fhoto Copyright halodoc.com

Di tengah pro dan kontra terus berlangsungnya gelaran Pilkada saat Pandemi Covid-19 yang tetap dilaksanakan pada 9 Desember 2020, tiba-tiba Tv One mengangkat topic utama potensi klaster baru di dunia Pendidikan keagamaan Pondok pesantren. Tentu menjadi polemik bahkan terinformasi sampai-sampai Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Marzuqi Mustamar menyampaikan protes keras terhadap Tv One yang dinilai “gegabah” mengangkat topik tersebut hanya karena adanya beberapa santri yang terpapar virus Covid-19.

Paparan Virus Covid-19 yang telah menyasar semua negara sehingga ditetapkan sebagai Pandemi telah menyebabkan berbagai kendala tidak hanya ekonomi juga dunia pendidikan terutama Pesantren. Jika pendidikan umum bisa melakukan pendidikan jarak jauh bahkan daring, tentu pendidikan di lingkungan pesantren tidak dapat dilakukan serta merta. Pendidikan pesantren tidak hanya mengenai pengetahuan dan etika tapi juga laku peribadatan yang tidak bisa dilakukan secara daring semisal sholat berjamaah.

Dengan kekhususannya tersebut tentu pemerintah masih mentoleransi pesantren tetap menjalankan aktivitas pendidikannya dengan menerapkan protokol kesehatan. Tanpa melalui kampanye 3M secara besar-besaranpun, setidaknya pesantren sudah sejak dulu melakukan gerakan 3M, setidaknya minimal 5 kali wudhu untuk melakukan sholat 5 waktu secara berjamaah.

Perjalanan penanganan Virus Corona di Indonesia tentu mengikuti berbagai tahapan yang telah dilakukan oleh WHO. Apalagi kejadian pandemi ini merupakan kejadian pertama dan belum ada satu negarapun yang mengklaim berhasil dalam penangananya.

Jika 3 bulan lalu tes paparan virus Corona ditandai dengan tes Rapid sehingga apabila hasilnya reaktif bisa “dikatakan” Positif Covid-19. Tetapi, saat ini hasil Rapid tersebut bukanlah bukti valid untuk menentukan seseorang dikatakan Positif virus Covid-19 dan harus “diisolasi”, karena Rapid mempunyai kelemahan “False negatif”.

Saat ini pengetesan paparan virus Covid-19 dilakukan melalui berbagai cara diantaranya SWAP PCR dan Tes Cepat Molekuler (TCM). Jika terjadi hasil positifpun tetapi tanpa gejala maka baru dilakukan “isolasi mandiri” dengan pengawasan pihak kesehatan atau satgas Covid-19.

Melihat masih belum berakhirnya Pandemi Virus Covid-19 dan belum ditemukannya vaksin, maka semua pihak termasuk lingkungan pesantren juga harus tetap Istiqomah menerapkan dan meningkatkan protokol kesehatan dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak). Dengan Usaha tersebut dibarengi doa, kita semua berharap dapat terhindar dari terjangkit Virus Covid-19, Aamiin. (GA)

, , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *