Mengenal Lebih Dekat Suku Semende, Sumatera Selatan

Istimewa

Masif Media – Untuk mengenal lebih dekat tanah Semende, tidak terlepas dengan sejarah, adat istiadat dan pendiri serta tokoh Semende. Semende adalah salah satu daerah di Selatan pulau Sumatera, tepatnya di Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Untuk lebih lengkapnya tentang Semende ini dapat diuraikan secara mendalam sebagai berikut:

Pengertian Semende

Semende terdiri dari dua suku kata yaitu Seme dan Ende dengan pengertian SEME = sama dan Ende = Harga. Semende = Sama Harga menurut logat Semende same rege yaitu betine (perempuan) tidak membeli dan bujang (lelaki) tidak dibeli. Pengertian Semende diartikan hubungan perkawinan (semende) bahwa laki-laki datang tidak dijual dan perempuan menunggu tidak membeli.

Suku Semende dapat dikenali dengan beberapa sebutan antara lain:

  1. Jeme Semende
  2. Tanah Semende
  3. Bahasa Semende
  4. Adat Semende
  1. Orang Semende/Jeme Semende

Orang Semende atau Jeme Semende merupakan komunitas tersendiri di Provinsi Sumatera Selatan yang tinggal dan berdiam di Kecamatan Semende, Kabupaten Muara Enim. Semende termasuk bagian dari kelompok Pasemah, termasuk Lematang, Lintang dan Lembak. Secara geografis Semende di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

  1. Semende Darat di Kabupaten ‘Muara Enim’
  2. Semende Lembak di ‘Kabupaten Ogan Komring Ulu’ sekarang ‘Ogan Komering Ulu Selatan’ (OKU. Selatan) 

Membicarakan suku Semende tidak terlepas dengan sosok Syech Nurqodim al-Baharudin (puyang awak) dimana beliau “dianggap” sebagai pencetus ide adat semende, beliau  adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.

fhoto copy right kanzunqalam.com

Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.

Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Karnawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumah tangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.

KH. Umar (Keturunan Puyang Awak)
Ujang Karnawi (Keturunan Puyang Awak)

Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.

Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.

Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.

Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.

Daerah Semende juga pernah didatangi para ulama terkemuka diantaranya Puyang (Tuan Guru) Sutabaris (Syekh Syamsu Tabriz/Syekh Syam-Su-Tabriz) dengan gelar MURTHABARAQ yang setingkat atau semasa dengan para wali Sembilan (wali songo) di Pulau Jawa sekitar abad 15 Masehi. Puyang Sutabaris ini bahkan menjadi guru Sunan Kalijaga selama 3 (tiga) tahun. Di  daerah Tumutan Tujuh Semende pernah diadakan rapat dan pertemuan-pertemuan penting para Wali untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di Bumi Nusantara (Indonesia) pada saat itu, diantaranya musyawarah dalam menentukan Raja Islam pertama di Demak, Raden Fatah.

fhoto copy right kanzunqalam.com

Para Wali yang rapat bermusyawarah di Tumutan Tujuh Semende tersebut adalah 4 (empat) orang wakil dari Wali Sembilan di Jawa dan dari Sumatera diwakili diantaranya oleh Puyang Sutabaris dan puyang awak, sedangkan dari Jawa, yaitu:

  1. Sunan Gunung Jati (Cirebon Jawa Barat)
  2. Sunan Kali Jaga (Jawa Tengah)
  3. Sunan Muria (Jawa Tengah)
  4. Sunan Bonang (Jawa Timur)

Di tanah Semende banyak generasi dan para ulama belajar dan menetap di Semende, diantaranya:

  1. Puyang Tuan Raje Ulie tinggal di Prapau
  2. Puyang Baharuddin di Muara Danau
  3. Puyang Leby (Pengulu Abd. Kohar) di Pulau Panggung
  4. Puyang Nakanadin di Muara Tenang
  5. Puyang Mas Pangeran Bonang di Muara Tenang
  6. Puyang Skin Mande (Sang Diwe) di Muara Tenang
  7. Puyang Raden Singe (asal Majapahit) di Muara Tenang
  8. Puyang Rabbushshamad di Tanjung Raya
  9. Puyang Regan Bumi di Tanjung Raya
  10. Puyang Same Wali di Tanjung Tiga
  11. Puyang Tuan Kecik (Rebiah Sakti) di Tanjung Laut
  12. Puyang Raden Walet di Aremantai
  13. Puyang Rene di Pulau Panggung dari Jepara (Tahun 1800 M)

Regenerasi para ulama dan Kyai di Tanah Semende terus berlanjut dimana sebagian besar belajar ke Mekkah, Arab Saudi dan kembali mensyiarkan agama islam dari tanah Semende. Beberapa tokoh ulama dan Kyai tersebut diantaranya:

  1. K.H. Mukhtar (ahli Nahwu dan Fiqih) di Pulau Panggung
  2. K.H. Abd Majid (alim membaca Al Quran) di Pulau Panggung
  3. K.H. Abd Karim (hafidz Al Quran) di Muara Tenang
  4. K.H. Abd Jabbar (ahli Nahwu Syorof) di Remantai
  5. K.H. Hasan Yusuf (ahli Nahwu syorof) di Tanjung Raye
  6. K.H. Zaini (ahli Qira’at Al Quran) di Tanjung Agung
  7. K.H. Burhan (ahli Nahwu Syorof) di Pajar Bulan
  8. K.H. Marsid (ahli nahwu Syorof) di Muara Tenang
  9. H.M. Yasin cucu K.H. Majid alumni Mesir (penulis Qur’an Pusaka Indonesia, Jakarta di zaman Presiden R.I pertama: Ir. Soekarno).

Dalam hal pemerintahan, Pangeran Rene adalah Kepala Marga pertama tanah Semende pada zaman Belanda (sekitar tahun 1800 M) berkedudukan di Pulau Panggung Semende. Pangeran Rene ini berasal dari Jepara Demak Jawa Tengah dan memiliki 3 saudara, dua orang saudaranya (kakaknya: Puyang Jadi dan adiknya: Puyang Setia) tinggal di daerah Marga Bengkulak Kecamatan Tanjung Lubuk OKI.

Setelah Pangeran Rene meninggal, maka digantikan oleh anaknya Pangeran Anom Kupang (tahun 1850 M). Pada masa pemerintahan Pangeran Anom Kupang inilah Belanda bermaksud untuk menduduki daerah Semende, akan tetapi Belanda tidak dapat masuk, karena rakyat Semende melakukan perlawanan sengit apalagi dengan landasan agama Islam yang kuat, mereka tidak mau wilayahnya diganggu oleh siapapun juga, apalagi dijajah oleh Belanda. Tetapi dengan kelicikannya Belanda, berhasil membuat perundingan dimana pada 14 Agustus 1869 dibuat perjanjian antara Pemerintah Belanda dengan Pangeran Anom Kupang berupa piagam yang ditulis di atas Tembaga yang berisikan 24 pasal dan disimpan di Museum Rumah Bari Palembang, yang berisi diantaranya:

  1. Daerah Semende yang dipimpin Pangeran Anom Kupang tidak takluk kepada Pemerintah Belanda.
  2. Daerah Semende diakui Belanda sebagai Daerah Istimewa (SINDANG MERDEKA).
  3. Tidak diwajibkan membayar upeti (pajak) kepada Belanda.
  4. Tentara Belanda tidak boleh masuk daerah Sindang Merdeka sebelum mendapat izin Pemerintah Sindang Merdeka.
  5. Orang luar Sindang Merdeka tidak berhak mengadili rakyat Sindang Merdeka dan mereka harus dikembalikan ke tempat asal (Sindang Merdeka), dan ia berhak mengadili orang luar bila berbuat kesalahan di dalam daerah Sindang Merdeka. 

Perjuangan melawan penjajah Belanda terus berlanjut dibuktikan oleh Puyang Rentul Panji Alam, Puyang Kepiri, Puyang Rabul, yang mempertahankan Benteng Aur Duri (Aik Enim Dik Beghikan). Kemudian Puyang Sangin, dengan julukan: Karang Jelatang dari Muara Tenang, berjuang melawan Belanda di Kecamatan Tanjung Agung Enim, yang juga beristrikan orang Pulau Panggung Enim, di antara anak cucunya adalah H.M. Thoyib dan dr. Mustofa.

Dalam mempertahankan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, pejuang-pejuang Semende terus melawan Belanda meneruskan perjuangan generasi sebelumnya, pejuang Semende tersebut diantaranya:

  1. Kapten Idham dari Pulau Panggung
  2. Kapten H. M. Ichsan dari Tanjung Laut
  3. Letnan Muis dari Pulau Panggung
  4. Kol. TNI. (Purn) H. A. Zaidin dari Muara Tenang
  5. Letkol. TNI (Purn) H. M. Badri dari Pulau Panggung
  6. Gori dari Pulau Panggung
  7. Rudi dari Pulau Panggung
  8. Yazid Kenaru dari Pajar Bulan
  9. H.M. Djamili dari Muara Tenang, yang dijuluki Gajah Miri dan ditakuti Belanda
  10. Mayor Mingsur Panji Alam dari Bayur Kisam cucu Rentul P. Alam dari Muara Tenang
  11. Kuris dari Tanjung Raya
  12. Letnan Aziz Kontar dari Pulau Panggung
  13. Sersan Bachtiar dari Pulau Panggung
  14. Sersan Matseroh dari Muara Tenang
  15. Laskar Ibnu Hasyim dari Pulau Panggung
  16. Tentara Pelajar Drs. H. Barmawi HMS dari Muara Tenang
  17. Tentara Pelajar Drs. H. Fuad Bahyien dari Pulau Panggung

Tidak dapat dilupakan juga pejuang wanita Semende seperti :

  1. Hj. Kawimah Zaidin dari Tanjung Raya.
  2. Hj. Badiyah Dahnan dari Tanjung Raya

Tanah Semende

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, tanah Semende secara geografis terdiri dari 2 (dua) kelompok: Semende Darat di Kabupaten Muara Enim dan Semende Lembak di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Namun demikian, dimanakah tanah Semende bermula? Tanah Semende berada di dataran tinggi sepanjang deretan Bukit Barisan Pulau Sumatera. Ada 7 (tujuh) dataran tinggi sepanjang Bukit Barisan, yaitu:

1. Dataran Tinggi Gayo Luas di Provinsi Aceh

2. Dataran Tinggi Karo di Provinsi Sumatera Utara

3. Dataran Tinggi Agam di Sumatera Barat

4. Dataran Tinggi Kerinci di Provinsi Jambi

5. Dataran Tinggi Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu

6. Dataran Tinggi Tanah Besemah di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan

7. Dataran Tinggi Tanah Semende (Tumutan Tujuh) di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Sebagaian orang di dunia percaya bahwa bilangan ke tujuh merupakan angka yang mengandung kekeramatan dan keunggulan non fisik. Dari 7 (tujuh) dataran tinggi di sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatera tersebut dataran tinggi yang ke 7 (tujuh) terdapat di Semende -Tumutan Tujuh- (The Hill of Seven Watter Resources).

Danau Tumutan Tujuh

Dengan adanya perkembangan zaman dan peningkatan jumlah penduduk (Jeme Semende), pemukiman jeme semende telah menyebar kewilayah nusantara dalam bentuk komunitas-komunitas yang diantaranya:

  1. Semende Darat (asal mula) di Kabupaten Muara Enim
  2. Semende Lembak di Kabupaten Ogan Komring Ulu
  3. Pulau Beringin Bayur
  4. Ogan
  5. Komering Ulu
  6. Balik Bukit Barisan
  7. Bengkulu Selatan Muara Sindang
  8. Ulu Nasal
  9. Marga Kinal
  10. Padang Guci
  11. Kedurang
  12. Segimin
  13. Semende Pesisir
  14. Semende Abung
  15. Marga Kasui (Rebang)
  16. Kecamatan Bukit Kemuning
  17. Sumber Jaya, Way Tenung 
  18. Marga Sekampung Talang Padang
  19. Air Sepanas
  20. Metro Tanjung Karang
  21. Kaliandak dan Ketapang (Gunung Palas).

Perkembangan wilayah ini tidak terlepas dari inisiatif saran puyang awak untuk melakukan pembukaan wilayah diantaranya:

  1. Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau.
  2. Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie.
  3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe.
  4. Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).
  5. Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu.
  6. Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam.

Kedatangan para ulama/wali dan ada yang menetap di Semende Darat.

Bertepatan dengan terjadinya perang di Kerajaan Mataram pada abad ke-17, para puyang (ulama/wali) berdatangan ke Semende dengan masing-masing membawa berbagai ilmu pengetahuan, seperti :

  1. Puyang Mas Pangeran Bonang (dari kerajaan Mataram, Jawa Tengah), menyebarkan/mengajarkan agama Islam (Al-Quran dan Ilmu Tauhid).
  2. Puyang Regan, Naqanadin (dari kerajaan Mataram, Jawa Tengah), mengajarkan agama Islam dan Hukum Adat.
  3. Puyang Ahmad dari Sumatera Barat, mengajarkan Agama Islam dan Hukum adat
  4. Puyang Sangmurti dari Rindu Ati Penanjung Bengkulu Utara penyebar Hukum Adat dan Dukun Padi.
  5. Puyang Pemeriksa Alam dari Desa Lubuk Buntak Mulak, menyebarkan Hukum Adat, betungguan dan membela kebenaran
  6. Puyang Agung Nyawe/Abdul Malik bin Abdullah (1678-1736) dari Trenggano, Semenanjung Malaka (Malaysia) adalah murid syech Abdul Muhyi dari murid syech Abdul Rauf Al Sinkili Aceh. mengajarkan bahasa Melayu Sangsekerta dan agama Islam
  7. Puyang Kecabang dari Pasemah, mengajarkan Hukum Adat
  8. Puyang Hasanuddin asal Banten Jawa barat murid syech Abdul Muhyi dari murid syeh Abdul Rauf Al Sinkili Aceh, penyebar/mengajarkan agama Islam.
  9. Puyang Samewali, menyebarkan Hukum Adat.

Bahasa Semende

Bahasa sehari-hari Jeme Semende adalah bahasa Semende dengan kata-katanya berakhiran “E”, dilihat dari logat dan sebutan kata, bahasa semende ini termasuk dalam kelompok bahasa Melayu, sedangkan bahasa tulis menulisnya dikenal dengan Surat Ulu dan tempat menulisnya dibuat dari kulit kayu yang disebut dengan KAGHAS.

Adat Istiadat Semende

Adat istiadat dan kebudayaan Semende sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran islam. Adat istiadat Semende yang sampai dengan saat ini masih sangat kuat dipegang oleh jeme Semende adalah adat istiadat TUNGGU TUBANG. Adat ini mengatur hak warisan dalam keluarga bahwa anak perempuan tertua sebagai ahli waris yang utama. Warisan tersebut seperti Rumah, sawah, kolam (tebat), kebun (ghepangan), dan lain-lain yang diwariskan secara turun temurun. Warisan tersebut adalah harta pusaka tinggi, tidak boleh di bagi, tetap untuk tunggu tubang, kecuali kalau tunggu tubang menyerah, tidak mau lagi menjadi tunggu tubang. Tunggu Tubang penjabarannya dimulai berdasarkan :

  1. Harta Pusake tinggi
  2. Harte Pusake Rendah

Kedua-duanya tidak boleh dibagi dan sebagai penunggu ditunjuk anak perempuan tertua, jika tidak ada anak perempuan, maka anak laki-laki tertua sebagai tunggu tubangnya (anak belai). Harta Pusaka Tinggi yang telah turun temurun (bejulat) kepada anak cucu, cicit (piut) dan seterusnya sebagai ahli waris mempunyai hak dan kewajiban sebagai berikut :

  1. Sama waris, Sama harga
  2. Sama menjaganya
  3. Perempuan (Tunggu Tubang) hanya menunggu tidak kuasa menjual
  4. Laki-laki berkuasa, tapi tidak menuggu

sama-sama mengambil faedah baik laki-laki atau perempuan, rumusannya :

  1. Perempuan dibela, laki-laki membela.
  2. Sama-sama mengambil manfaat, yaitu perempuan disayang dan laki-laki disekolahkan tinggi, belajar mengaji sampai ke Makkah (Naun) dan sebagainya.
  3. Sama-sama mengambil untung, perempuan segera menikah sehingga orang tua berkesempatan mencari biaya untuk sekolah anak laki-laki, mengaji dan biaya menikah.
  4. Sama-sama mengharapkan hasil, perempuan lekas berkeluarga (menikah) sehingga mempunyai keturunan dan laki-laki diantar menikah ke tunggu tubang lain.

Pemelihara harta warisan adalah ahli waris laki-laki dengan tugas mengawasi harta seluruhnya supaya tidak rusak, tidak berkurang, tidak hilang, dan sebagainya. Lelaki tidak berhak menunggu, dia seorang laki-laki seakan-akan Raja berkuasa memerintah dan diberi gelar dengan sebutan MERAJE.

Anak belai adalah keturunan anak perempuan (Kelawai Meraje). Mengingat kelemahannya dan sifat perempuan (keibuan) maka ia dikasihi/disayangi dan ditugaskan menunggu harta pusaka sebagai tunggu tubang, mengerjakan, memelihara, memperbaiki harta pusaka dan ia boleh mengambil hasil (sawah, kolam, tebat, kebun/ghepangan) tetapi tidak kuasa menjual harta waris.

Seorang laki-laki di Semende berkedudukan sebagai “Meraje” di rumah suku ibunya (kelawainye) dan menjadi rakyat di rumah isterinya sehingga dia meraje dan juga rakyat. Kalau warga Tunggu Tubang (Adat Semende) telah turun temurun berjulat berjunjang tinggi, maka tingkat pemerintah (Jajaran Meraje) tersusun sebagai berikut :

  1. Muanai tunggu tubang, disebut Lautan (calon meraje) belum memerintah, dan dapat menjadi wali nikah (kawin) bagi kelawainya (ayuk atau adik perempuan)
  2. Muanai Ibu Tunggu Tubang, disebut/dipanggil “MERAJE”
  3. Muanai Nenek Tunggu Tubang, disebut/dipanggil JENANG
  4. Muanai Puyang Tunggu Tubang, disebut/dipanggil PAYUNG
  5. Muanai Buyut Tunggu Tubang, disebut/dipanggil LEBU MERAJE (RATU)
  6. Muanai Lebu Tunggu Tubang, dipanggil ENTAH-ENTAH

Catatan :

  1. Meraje = Memerintah (Kepala Pemerintah)
  2. Jenang = Lurus, Lembut (Memberikan Pertimbangan)
  3. Payung = Tempat Berteduh (Pelindung)
  4. Lebu Meraje = (Ratu) dihormati (Penasehat)
  5. Entah-Entah = Untuk Dikenang jasanya.

Makna Lambang Adat Semende / Tunggu Tubang.

  1. Kujur = Lurus, Jujur
  2. Guci = Teguh Menyimpan Rahasia (Terpercaya)
  3. Jale = Bijaksana, Menghimpun
  4. Tebat = Sabar
  5. Kapak = Adil

Sedangkan, beberapa lambang lain mempunyai makna diantaranya:

  1. Bakul Betangkup = Teguh Menyimpan Rahasia
  2. Niru = Tahu Membedakan Yang Baik dan Yang Buruk
  3. Tudung = Suka Menolong (Melindungi)
  4. Kinjar = Rajin, Siap Kemana Saja Pergi
  5. Piting = Suka Menerima Tamu
  6. Tuku = Pribadi Tepuji
  7. Runtung = Tempat Rempah-Rempah

Asal dan Terjadinya Adat Semende

Pada umumnya Jeme Semende mengakui dan menyatakan bahwa Adat Semende bertitik tolak dan berpedoman pada ajaran islam (kebudayaan islam) dan terjadinya adat semende ini adalah hasil rapat/musyawarah para puyang (ulama/wali) Semende yang bertempat di Pardipe Pagaruyung Marga Lubuk Buntak Pasemah pada Abad ke-17 dan sebagai koordinatornya adalah Puyang Awak.

Puyang Awak pada tahun 1650 M adalah anak angkat Puyang Baharuddin di Muara Danau dan dia tidak menyusuk/tinggal di tanah Semende. Isteri Puyang Awak adalah adik perempuan (kelawai) Puyang Leby (Abdul Qohar) tidak ada keturunan. Puyang Awak belajar mengaji (memperdalam) agama islam ke Aceh, gurunya Tuan Syekh Abdul Rauf Al Sinkili (1615–1693) yang pulang dari Mekkah pada tahun 1661 M. Suami adik perempuan (kelawai) Puyang Awak adalah Puyang Tuan Raje Ulie di Prapau Semende. (KH. Abdul Jabbar)

Tuan Syekh Abdul Rauf Al Sinkili adalah Wali Allah guru tarekat Satariyah, di antara muridnya adalah sbb :

  1. Syekh Burhanuddin Ulakan dari Sumatera Barat (1646 M)
  2. Syekh Abdul Muhyi dari Jawa Barat
  3. Puyang Awak dari Semende (1650 M)

Murid yang mendapat ijazah untuk mengajarkan/meneruskan tarekat Satariyah dari Syekh Abdul Rauf al Sinkili adalah Syekh Burhanudin Ulakan dari Sumatera Barat, dan Syekh Abdul Muhyi dari Jawa Barat, yang mempunyai murid dan mendapat ijazah meneruskan tarekat Satariyah bernama H.M. Hasanuddin dari Banten. Puyang Hasanuddin inilah diantaranya yang diajak Puyang Awak mencari tanah untuk anak cucu keturunan Semende.

Adat Semende disesuaikan dengan ajaran islam (ilmu tauhid dan syariat islam) untuk keselamatan dunia akhirat. Jadi Adat Semende itu termasuk kebudayaan Islam. Di dalam Alquran berbunyi “ittaqullah” artinya bertaqwalah kepada Allah dengan mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarang. Dalam Adat Semende terdapat perintah/suruhan dan larangan tersebut, yaitu :

A. Perintah/suruhan :

  1. Menganut/memeluk agama islam
  2. Beradat Semende
  3. Beradab Semende
  4. Betungguan (membela kebenaran)

B. Larangan/pantangan jeme Semende :

  1. Sesama Tunggu Tubang pantang dimadukan, mengingat tanggung jawabnya berat
  2. Bejudi/jaih/nyabung
  3. Enggaduh racun tuju serampu (iri hati/hasut/dengki)
  4. Nganakah duit. (riba)
  5. Maling tulang kance. (curang)
  6. Nanam kapas/wanggean (Ringan timbangannye)
  7. Nanam sahang (pantang garang/pemarah)

C. Sifat (motivasi) jeme Semende :

  1. Benafsu (rajin bekerja)
  2. Bemalu (sebagian dari iman)
  3. Besingkuh (berbicara dan tingkah laku tidak sembarangan)
  4. Beganti (setia kawan)
  5. Betungguan (tidak goyah/mantap)
  6. Besundi/beradab (tata krama, tata tertib)
  7. Beteku (perhatian/suka membantu).
  • Fatwa Jeme Semende
  1. Pajam suare dik be dane
  2. Maluan nengah dik be pakai
  3. Hilang baratan ghumah mighis
  4. Kasih kance timbang ghase
  5. Kasih sudare sesame ade
  6. Kasih bapang sebelum marah
  7. Kasih endung sepanjang mase

Menurut sejarah, pada jaman penjajahan Belanda, adat istiadat Semende ini dibuatkan pelakat/piagam yang disimpan di Museum Betawi (Jakarta) dan dijadikan pedoman Belanda untuk memberikan pertimbangan dan memutuskan suatu perkara yang terjadi di Semende.

Demikianlah perkenalan dengan suku Semende sebagai informasi yang masih perlu dikaji dan dipelajari secara mendalam sehingga dapat dijadikan pengetahuan dan pedoman bagi masyarakat Semende pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tulisan didapat dari berbagai Referensi diantara:

  1. KH. Kgs Abdurrahman Guru Tarikat Sammaniyah
  2. H.Kohapa Mantan KUA Pulau Panggung 
  3. Drs. H. Fuad Bahyen Pensiunan Pertamina Pusat Jakarta
  4. H.Tjikdeham mantan kepala SD Semende
  5. KH. Abd Jabbar Ulama Semende
  6. Mahyuddin BA bin M. Ramli Fakiruilallah guru tarekat Sammaniyah asal Paiman Sumbar.
  7. Dr.Hj. Srimulyati, MA “Mengenal & Memahami Tarekat Muktabarak di Indonesia”
  8. Sultan Indra, SH. Suku  “SEMENDE” Dalam Sejarah
  9. Drs. H. Azhari Rahardi, M.Si (Kemenag Kabupaten Muara Enim)
,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *